Sabtu, 12 Februari 2011

Nasihat Sufi

Cuplikan dari Berbagai narasumber..,

Guru, Kini Negeri Ini Tertimpa Bencana Dimana-mana

GURU dahulu engkau pernah mengutip sebuah ayat suci Al-Qu'ran yang masih terngiang ditelinga. Engkau mengatakan : "Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia..." [1]

Sungguh aku tidak mengerti apa yang kau katakan, aku hanya berusaha mencari jawaban kalimat itu. Dimana Ibnu Abbas r.a. menfasirkan ayat itu, yang dimaksud daratan adalah kasih sayang manusia terhadap mahluk yang lainnya, sementara lautan adalah hati yang selalu iri dengki dan penyakit hati lainnya baik terhadap dirinya maupun sesama mahluk ciptaan Allah swt yang lain.
Aku berusaha memperdalam makna yang terkandung didalamnya dengan segala keterbatasan ilmu yang dimiliki. Bukan saja terhadap mahkluk yang hidup, bahkan mahluk yang mati (benda tak bernyawa) sekalipun. Walaupun belum kutemukan jawabannya, namun kini aku menemukan contoh yang lain.

Guru, kini negeri ini tertimpa bencana dimana-mana. Mungkin ini salah satu pertanda ayat suci tersebut. Disadari atau tidak kita telah ikut di dalamnya, daratan dan lautan tidak lagi seimbang. Kerusakan dan kehancuran di darat dan di laut karena campur tangan manusia.

Kemudian, guru engkau melanjutkan ayat tersebut: “…supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. [1].

Kini aku mulai bertanya lagi, perbuatan apa yang kami perbuat sehingga Allah timpakan peringatan, agar mereka kembali kejalan yang di ridhai. Sehingga saya teringat seorang khatib dan imam shalat Jum’at berkata : disadari atau tidak, bukan rahasia umum lagi maksiat telah nampak dimana-mana. Mari kita bandingkan berapa juta yang melakukan maksiat dan berapa juta yang melakukan bertobat. Jika sebagian kecil berdo’a untuk keselamatan negeri ini, sementara sebagian besar melakukan maksiat. Tentu jumlah yang kecil akan kalah dengan jumlah yang banyak. Setidaknya kta berusaha untuk memperbaiki diri sendiri dan keluarga”.

Pernahkah kita berdo’a untuk negeri ini sebagaimana Nabi Ibrahim berdo’a untuk keselamatan dan ketentraman mekah waktu itu. Kadang kita berdo’a untuk diri kita sendiri, lebih jauh sebatas mendo’akan keluarga, saudara, teman dan sahabat.

Guru, aku hanya berusaha berdo’a, sebagaimana Nabi Ibrahim a.s. berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian” [2].
Guru, kini aku berusaha mengerti.

FootNote:
[1]. Q.S. Ar-Rum:41, [2]. Q.S. Albaqarah:126 




Mangkuk Tak Beralas

Seorang raja bersama pengiringnya yang baru saja keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi, berpapasan dengan seorang peminta-minta. Sang raja menyapa sang peminta-minta:
-- Apa yang engkau inginkan dari beta?
Sang peminta-minta tersenyum dan berkata:
-- Tuanku bertanya kepada patik seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan patik.
Sang raja merasa tertantang:
-- Tentu saja beta dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah.
Maka menjawablah sang peminta-minta:
-- Berpikirlah dua kali, hai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa.
Rupanya sang peminta-minta bukan sembarang peminta-minta. Namun sang raja tidak merasakan hal itu, bahkan sang raja timbul rasa angkuhnya karena mendapat nasihat dari sang peminta-minta yang menurut sang raja tidak patut dilakukan oleh orang yang hina itu.
-- Sudah beta katakan, apapun permintaanmu dapat beta penuhi. Beta adalah raja yang paling berkuasa dan kaya-raya. Apa sih keinginanmu itu yang tak dapat beta kabulkan?
Maka berkatalah sang peminta-minta:
-- Permintaan patik sederhana saja. Tuanku lihat mangkuk penadah sedekah ini? Dapatkah tuanku mengisinya penuh dengan apa yang tuanku inginkan.
Bukan main, sang peminta-minta berkata sebaliknya "apa saja tuanku imginkan". Maka dengan geram sang raja memanggil bendahara kerajaan yang ikut dalam rombongan itu.
-- Isikan penuh mangkuk orang hina ini dengan emas.
Bendahara kerajaan membuka pundi-pundinya yang berisi emas lalu dituangkannya emas dari pundi-pundi itu ke dalam mangkuk sedekah sang peminta-minta. Aneh, pundi-pundi besar yang berisi emas itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk itu.
Menyaksikan bendahara kerajaan pulang balik antara gudang perbendaharaan kerajaan dengan tempat adegan yang aneh itu, maka seisi penghuni istana datang berkumpul, bahkan rumor "pertandingan" itu sudah melebar ke segenap penjuru ibu kota kerajaan. Maka berduyun-duyunlah penduduk datang menyaksikan pertandingan itu. Lagi dan lagi mangkuk itu diisi bendahara, lagi dan lagi seakan-akan mangkuk itu bolong tak berdasar. Namun sang raja tidak mau kehilangan muka dihadapan rakyatnya. Lagi dan lagi sang raja memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Mangkuk itu tetap kosong, walaupun seluruh perbendaharaan kerajaan emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu.
Akhirnya sang raja mau tidak mau, suka tidak suka terpaksa menyerah kalah. Sang raja jatuh bersimpuh di kaki sang peminta-minta. Dengan terbata-bata sang raja bertanya kepada sang peminta-minta yang bukan sembarang peminta-minta itu:
-- Dapatkan tuanku memenuhi permintaan patik, sebelum tuanku berlalu dari tempat ini? Itu mangkuk sedekah terbuat dari apa gerangan?
Peminta-minta itu menjawab sambil tersenyum:
-- Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya. Engkau menginginkan sesuatu, sebermula ada kegembiran, gairah memuncak di hati dan pengalaman yang mengasyikkan. Dan akhirnya jika engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, akhirnya tidak ada lagi artinya bagimu, semuanya hilang ibarat intan berlian yang masuk dalam mangkuk yang tak beralas itu. Kegembiran, gairah memuncak di hati dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan itu. Lagi-lagi jika keinginan tercapai, maka tatkala itu apa yang tadinya diinginkan lenyap lagi ditelan mangkuk yang tak berdasar itu. Datang lagi keinginan baru. Setelah tercapai hilang lagi ditelan mangkuk. Anak cucumu di belakang hari mengatakan dalam bahasa Bugis-Makassar: power tends to corrupt. Maka raja itu bertanya lagi:
-- Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?
-- Oh, ada, yaitu rasa syukur kepada Allah SWT, lain syakartum laaziydannakum(*), ucap sang peminta-minta, natulusuqmo lampana nalaloi napolong parang ri dallekanna ballaq lompoa sanggenna aqlanynyaq ripacciniqna tau jaiya (sambil ia berjalan melintas lapangan di depan istana, kemudian raib dari mata khalayak). WaLla-hu a'lamu bisshawab.



Renungan..,


Bagaimana Membeningkan Hati ?

Ini mungkin merupakan pendekatan bagaimana membersihkan hati sehingga hati menjadi bening dan bercahaya:
[]Pahamilah semoga beruntung[]
Dikisahkan ada suatu perlombaan melukis dengan kanvas berupa dinding bangunan berwarna putih, dimana hanya diikuti oleh dua negara peserta. Negara Amerika dan Cina. Peserta ditempatkan di dalam satu gedung dimana dinding sisi kiri untuk team team Amerika dan sisi kanan oleh team Cina, sehingga saling berhadapan. Satu gedung tersebut ditengahnya dipisahkan oleh dinding sekat yang terbuat dari kayu yang sewaktu-waktu dapat di buka. Ketentuan perlombaan, lukisan harus selesai dalam waktu tiga hari tiga malam.
Peserta dari Amerika telah mempersiapkan semua alat dan perlengkapan lukis selengkap mungkin. Sementara peserta negara Cina hanya memperlengkapi dengan kain lap dan peralatan seadanya.
Perlombaan pun dimulai, dengan giat peserta team Amerika melukis suatu pemandangan yang indah pada dinding sisi kiri. Sementara dinding kanan oleh team Cina malah sibuk menggosok dinding oleh kain lap sampai licin dan mengkilat.
Akhirnya batas waktu tiga hari habis, tibalah untuk menilai semua lukisan. Pertama juri menilai lukisan dari team Amerika, dengan lukisan suatu pemandangan yang bagus dan indah. Kemudian tiba giliran team Cina di nilai, semua juri kaget karena yang ada hanya dinding yang telah bening mengkilat. Dimana lukisan nya dan harus menilai apa? Sang juri bertanya. Dengan tenang team Cina menjawab “Silahkan para juri buka sekat dinding bagian tengah ini yang memisahkan kami dengan team Amerika, tentu anda akan lihat keindahan lukisan kami”.
Akhirnya dinding sekat tengah dibuka, dan nampaklah di dinding sebuah pemandangan yang indah. Dimana dinding tersebut memantulkan lukisan pemandangan dari team Amerika. Lebih indah dari lukisan team Amerika, ternyata team Cina menjadikan dinding menjadi mengkilap untuk menerima pantulan lukisan dari dinding sebelah kirinya, sehingga hasilnya lebih indah-sangat indah, dan mengalahkan team Amerika.
Sebuah Renungan:
Inilah mungkin sebuah gambaran hati, beningkan dengan ampunan terus menerus agar semakin mengkilap, bening, dan bercahaya, maka semakin indah dan dapat menerima semua gambaran bukan saja gambaran diri tetapi semua gambaran alam semesta. Seibarat kaca yang dapat menerima pantulan lukisan yang ada dihadapannya.
Kisah ini didasari sebuah hadist Nabi SAW.asss
Nabi Muhammad SAW, bersabda: “Tuntulah Ilmu walau harus ke negeri Cina”.


Anda dan Sang Khaliq

Orang sering sulit dimengerti, tidak pikir panjang dan selalu memikirkan diri sendiri, namun demikian... Ampunilah mereka.
Bila anda baik hati, anda mungkin menuduh anda egois, atau punya mau, namun demikian...  Tetaplah berbuat baik.
Bila anda sukses, anda akan menemui teman-teman yang tidak bersahabat, dan musuh-musuh sejati anda, namun demikian ............ Teruskan kesuksesan anda.
Bila anda jujur dan tulus hati, orang mungkin akan menipu anda, namun demikian ... Tetaplah jujur dan tulus hati.
Hasil karya anda bertahun-tahun dihancurkan orang dalam semalaman, namun demikian ... Tetaplah berkarya
Bila anda menemukan ketenangan dan kebahagiaan, mungkin banyak yang iri, namun demikian... syukurilah kebahagiaan anda
Kebaikan anda hari ini sering dilupakan orang, namun demikian... teruslah berbuat kebaikan
Berikanlah yang terbaik dari anda, namun itu pun tidak akan pernah memuaskan orang, namun demikian... tetaplah memberi yang terbaik
Pada akhirnya...
Perkaranya adalah antara anda dan Sang Khaliq... dan bukan antara anda dan mereka.


Garam dan Telaga

Suatu ketika hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkah gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditabrukan garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan, "Coba, minum ini, dan bagaimana rasanya.."ujar Pa tua itu.
"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya samapilah mereka ke tepi telaga yang tenang.
Pak tua itu, lalu menaburkan kembali segenggam garam, kedalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan mnumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pa tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya ?".
"Segar.". sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam dalam air itu?", tanya Pak tua lagi. "Tidak", jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pa tua menepuk-nepuk punggung si anak muda, Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh disamping telaga. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, rak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu sama, dan memang akan sama".
"Tapi kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkan dadamu menerima semuanya. Luaskan hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu".
Pak tua kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Qalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya, Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu merendam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan".
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak tua, si orang bijak itu, kembali, menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang membawa keresahan jiwa.